Deskripsi/Abstract
Penelitian dilatarbelakangi oleh Pergeseran makna Walimatul ursy dari ritual keagamaan menjadi simbol status sosial yang mengutamakan kemewahan. Beban ekonomi keluarga akibat penyelenggaraan Walimatul ursy yang melebihi kemampuan finansial, seringkali berujung pada utang dan penjualan aset.Peningkatan kesenjangan sosial dalam masyarakat karena perbedaan skala dan kemewahan Walimatul ursy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan Dampak Pelaksanaan Walimatul ursy terhadap Sosial Ekonomi Keluarga di Kecamatan Kumun Debai Kota Sungai Penuh dalam Perspektif Sosiologi Hukum Keluarga Islam.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah Camat Kumun Debai Kota Sungai Penuh, pasangan pengantin, Ketua MUI Kecamatan Kumun Debai, penyedia jasa wedding organizer, perwakilan lembaga keuangan Bank BRI, yang dilakukan secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan, observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data terdiri dari Reduksi Data, Data Display dan Verifikasi dan Penarikan Kesimpulan. Teknik Keabsahan Data menggunakan Teknik triangulasi sumber (data) dan triangulasi metode untuk menguji keabsahan data yang berhubungan dengan masalah penelitian yang diteliti oleh peneliti.
Temuan penelitian adalah pelaksanaan walimatul ursy di Kecamatan Kumun Debai, Kota Sungai Penuh yang telah mengalami transformasi signifikan dari tradisi sederhana menjadi perayaan kompleks dan mahal. Persiapan memerlukan waktu 6-12 bulan dengan biaya berkisar dari 20 juta hingga lebih dari 100 juta rupiah, yang dibagi dalam kategori sederhana, menengah, dan mewah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan meliputi aspek sosial budaya (penghormatan leluhur dan tekanan masyarakat), ekonomi (keinginan mencapai standar sosial), dan modernisasi (pengaruh media sosial). Dampak ganda terjadi dimana secara sosial walimatul ursy memperkuat ikatan keluarga dan status sosial, namun berdampak negatif secara ekonomi berupa hutang jangka panjang, pengurasan tabungan, dan penjualan aset produktif. Dari perspektif sosiologi hukum keluarga Islam, terdapat kesenjangan antara ajaran Islam yang mengutamakan kesederhanaan dengan praktik masyarakat yang mementingkan kemewahan dan gengsi. Penelitian ini menemukan bahwa pengaruh adat dan tekanan sosial lebih dominan dibanding ketaatan pada prinsip agama, sehingga diperlukan edukasi untuk merekonsiliasi nilai adat dengan ajaran Islam dalam konteks pelaksanaan walimatul ursy
Files
| Attachment | Size |
|---|---|
| TESIS DEWI PUTRIYANTI.pdf | 5.28 MB |
Karya Lainnya
Saat ini belum ada karya lain dari penulis yang sama.
Berdasar Subject
Berdasar Tags
Saat ini belum ada karya lainnya berdasar kategori ini.