Deskripsi/Abstract
Peneltian ini dilatarbelakangi oleh masyarakat Desa Semerap memiliki sistem adat yang kokoh dalam penanganan musibah, yang telah terbukti efektif selama bergenerasi. Tingginya tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan sistem adat menunjukkan kuatnya ikatan social. Keberadaan struktur kepemimpinan adat yang jelas dengan Depati Mudo, Pemangku Adat dan Kadi Rajo dan Peran aktif sepuluh ninik mamak dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari Penguatan Tanggungjawab Kaum Adat Terhadap Penanganan Musibah dalam Wilayah Kedepatian Semerap Kecamatan Danau Kerinci Barat, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriftif.. Informan dalam penelitian ini adalah pemangku adat, depati mudo, kadi raja, ninik mamak dpt. lipan, anak jantan/hulubalang, keluarga korban orang hilang, tokoh masyarakat, anggota bpd, tokoh pemuda, masyarakat yang terlibat dalam pencarian. Teknik pengumpulan data menggunakan, observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data terdiri dari reduksi data, data display dan verifikasi dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data menggunakan Teknik triangulasi sumber (data) dan triangulasi metode untuk menguji keabsahan data yang berhubungan dengan masalah penelitian yang diteliti oleh peneliti.
Hasil penelitian bahwa Tahapan Penanganan Musibah oleh Kaum Adat di Desa Semerap Sistem penanganan Musibah dalam Wilayah Kedepatian Semerap Kecamatan Danau Kerinci Barat, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi terdiri dari tiga fase yang terstruktur dan sistematis. Dimulai dengan pemberitahuan dari keluarga kepada pemangku adat, dilanjutkan musyawarah darurat dengan ninik mamak dan verifikasi kejadian oleh anak jantan. Mobilisasi seluruh warga dilakukan melalui beduk adat dan pengumuman masjid. Fase kedua melibatkan pencarian kolektif dengan pemberlakuan hukum "tidak boleh pecah ile, pecah mudik" selama tiga hari. Fase ketiga adalah pengakhiran pencarian massal melalui musyawarah adat, dengan tetap memberikan dukungan kepada keluarga korban secara sukarela. Tanggung jawab kaum adat di Desa Semerap dalam penanganan musibah menunjukkan sistem yang terstruktur dengan pembagian peran yang jelas. Pemangku adat sebagai pemimpin tertinggi menggerakkan sistem melalui musyawarah dengan sepuluh ninik mamak. Depati Mudo bertanggung jawab menyebarkan informasi melalui beduk adat, Kadi Raja mengintegrasikan aspek spiritual, dan ninik mamak mengoordinasi pencarian di lapangan. Aturan "tidak boleh pecah ile, pecah mudik" memastikan partisipasi seluruh warga selama tiga hari. Sistem adat ini membuktikan bahwa kearifan lokal tetap efektif dalam menangani musibah di era modern.
. Dampak dari Penguatan Tanggungjawab Kaum Adat Terhadap Penanganan Musibah dalam Wilayah Kedepatian Semerap Kecamatan Danau Kerinci Barat, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi berdampak dalam empat aspek utama. Terlihat peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dengan warga berpartisipasi atas inisiatif sendiri dan membawa perlengkapan tanpa diminta, mencakup generasi muda dan tua. Kepatuhan tinggi terhadap aturan "tidak boleh pecah ile, pecah mudik" didasari pemahaman akan pentingnya sistem ini. Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama dengan warga berbagi sumber daya dan berkolaborasi dalam setiap fase. Rasa empati mendalam terwujud melalui dukungan psikologis, sosial, dan spiritual berkelanjutan kepada korban musibah, menciptakan sistem yang memperkuat ketahanan masyarakat secara keseluruhan.
Files
| Attachment | Size |
|---|---|
| TESIS HIDAYATI.pdf | 3.3 MB |
Karya Lainnya
Saat ini belum ada karya lain dari penulis yang sama.
Berdasar Subject
Berdasar Tags
Saat ini belum ada karya lainnya berdasar kategori ini.