Deskripsi/Abstract
Penyimpangan seksual merupakan manifestasi dari dorongan nafsu lawwamah atau dorongan biologis yang mendorong individu maupun kelompok untuk mencari kepuasan atau fantasi seksual melalui cara-cara yang tidak sesuai dengan norma sosial dan moral yang berlaku. Ketika perilaku menyimpang ini dilakukan oleh seorang agamawan, fenomena tersebut menjadi isu yang sensitif dan berdampak signifikan terhadap persepsi masyarakat. Dampak tersebut tidak hanya mencoreng citra pelaku, tetapi juga berpotensi merusak keharmonisan rumah tangga, khususnya dalam konteks masyarakat religius yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan adat, seperti yang terdapat di Kota Padang Panjang.
Di Kota Padang Panjang, teridentifikasi sejumlah kasus yang mengindikasikan keterlibatan kalangan agamawan dalam perilaku penyimpangan seksual. Para pelaku berasal dari berbagai latar belakang keagamaan, mulai dari guru mengaji hingga pengurus lembaga keagamaan, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Fenomena ini memunculkan keprihatinan yang mendalam, terutama dalam konteks masyarakat yang menjunjung tinggi integritas, kehormatan, dan tanggung jawab moral para tokoh agama.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk penyimpangan seksual yang dilakukan oleh kalangan agamawan di Kota Padang Panjang, menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakanginya, serta mengevaluasi dampaknya terhadap struktur sosial dan keharmonisan kehidupan rumah tangga . Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pemahaman akademik mengenai relasi antara otoritas keagamaan, penyimpangan perilaku seksual, dan keharmonisan rumah tangga. Selain itu, temuan penelitian ini dapat menjadi masukan bagi lembaga keagamaan dan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pencegahan terjadinya penyimpangan seksual di dalam kehidupan masyarakat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpangan seksual yang dilakukan oleh agamawan di kota Padang Panjang dapat disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Akibat dari penyimpangan tersebut antara lain menimbulkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga pelaku, baik dalam hubungan antara orang tua dan anak maupun antara suami dan istri. Hal ini dipicu oleh hilangnya kepercayaan, trauma psikologis, dan dalam beberapa kasus, berujung pada perceraian. Selain itu, keluarga korban sering mengalami stigma sosial, pengucilan, dan tekanan dari lingkungan sekitar.
Files
| Attachment | Size |
|---|---|
| TESIS LUKMAN.pdf | 2.15 MB |
Karya Lainnya
Saat ini belum ada karya lain dari penulis yang sama.
Berdasar Subject
Berdasar Tags
Saat ini belum ada karya lainnya berdasar kategori ini.