Deskripsi/Abstract
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi pasangan khitbah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan aparat desa. Hasil temuan menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman terhadap makna khitbah serta lemahnya pengawasan sosial menjadi penyebab utama terjadinya pergaulan bebas. Dalam beberapa kasus, pasangan khitbah bahkan diizinkan untuk berduaan oleh orang tua atau masyarakat sekitar, yang mengarah pada pelanggaran etika pergaulan dalam Islam.
Pemahaman masyarakat dan pasangan khitbah di Desa Pelangki terhadap konsep khitbah masih beragam, di mana sebagian memahami bahwa khitbah hanyalah ikatan janji yang belum sah secara hukum agama dan negara, sementara sebagian lainnya menganggap khitbah memberi kebebasan dalam berinteraksi layaknya pasangan suami istri. Fenomena pergaulan bebas pasangan pasca khitbah ini menunjukkan pelanggaran terhadap norma agama dan sosial, ditandai dengan perilaku menyimpang seperti berduaan tanpa pendamping, bergandengan tangan, hingga aktivitas yang lebih intim, yang muncul akibat lemahnya pengawasan keluarga, rendahnya pemahaman agama, serta toleransi sosial yang longgar. Dalam teori kontrol sosial, perilaku menyimpang ini terjadi karena lemahnya ikatan sosial dari keluarga, adat, agama, dan komunitas. Ketika pengawasan sosial melemah, individu lebih mudah melanggar norma tanpa rasa bersalah. Penanggulangan diperlukan melalui pendekatan keagamaan, penguatan pengawasan keluarga, dan pembentukan regulasi sosial berbasis adat dan ajaran Islam di Desa Pelangki
Files
| Attachment | Size |
|---|---|
| TESIS WIDYA NORA .pdf | 2 MB |
Karya Lainnya
Saat ini belum ada karya lain dari penulis yang sama.
Berdasar Subject
Berdasar Tags
Saat ini belum ada karya lainnya berdasar kategori ini.