Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.iainkerinci.ac.id/jspui/handle/123456789/60
Title: Studi Penerapan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di STAIN Kerinci
Authors: Alam, Masnur
Issue Date: 2014
Publisher: Annual International Conference on Islamic Studies XIV
Abstract: Masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, budaya, adat, bahasa dan agama. Oleh karena itu masyarakat Indonesia disebut sebagai masyarakat multikultural, bahkan terbesar di dunia. Dengan keanekaragaman tersebut maka sangat rawan terjadinya konflik-konflik horizontal, sejak awal kemerdekaan sampai sekarang, bahkan arus konflik semakin deras terjadi pada era reformasi. Pada bulan Agustus 2014 saja, terjadi bentrokan berdarah di Maluku, yaitu Desa Luhu dan Desa Iha yang menelan nyawa dan harta. Benrokan berdarah ini menambah panjang daftar konflik di Maluku. Sebelumnya konflik juga terjadi di Kabupaten Maluku Tengah, yaitu Desa Seith dan Lima. Pada bulan Agustus 2014 juga terjadi tawuran dua kelompok warga di Tebet Jakarta Selatan, tawuran ini terjadi kesekian kalinya, bahkan warga khawatir akan berlanjut kembali. Di samping itu juga melanda lembaga-lembaga pendidikan, kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru, tawuran antar pelajar dan siswa bahkan mahasiswa. Dengan demikian susah untuk diprediksi kapan Indonesia akan bebas dari konflik, karena diversitas budaya dan agama tidak dapat dibendung, bahkan semakin luas karena terjadinya globalisasi. Tatkala menganalisa persoalan di atas, inti penyebabnya adalah karena negara Indonesia merupakan negara multikultural, yang kaya dengan keanekaragaman budaya dan agama. Sedangkan di antara mereka saling dominasi, banyak identitas, berbeda ideologi, memiliki geng, sekte masing-masing dan menganggap budaya dan agamanyalah yang benar. Bangsa ini mudah memprovokasi dan terprovokasi, banyak yang mau monopoli, menjadi kelompok radikal, militan dan ekstrim. Di zaman Soekarno dan Soeharto (Orde Baru) memang tidak banyak membicarakan keanekaragaman, bahkan dikenal dengan “keseragaman budaya” atau monokulturalisme, dengan alasan stabilitas. Pada masa reformasi juga belum diarahkan mengenai pentingnya penyelenggaraan pendidikan multikultural yang berdasarkan kekhasan agama, lingkungan sosial dan budaya. Belum diatur mengenai saling pengertian, toleransi, kerja sama antar suku dan agama. Baru beberapa tahun belakangan ini kita merasakan dari dampak semuanya itu, bingkai “Bhinnika Tunggal Ika” akan terancam, karena bangsa ini tidak sangup bersatu dalam keanekaragaman, dan sudah menjadi bangsa yang tidak bermartabat. Ini merupakan tantangan yang mendesak untuk diselesaikan. Melihan kondisi konflik yang tiada berkesudahan, menimbulkan keprihatinan Susilo Bambang Yudoyono sebagai presiden RI sehingga dalam pidatonya pada acara pengukuhan Paskibraka tanggal 14 Agustus 2014, beliau mengatakan “mari kita ciptakan kerukunan dalam kemajemukan”. Pada hari berikutnya tanggal 15 Agustus 2014 pada pidato kenegaraan, beliau mengajak seluruh kalangan bangsa ini untuk tetap menciptakan “kedamaian”. Kendatipun konflik itu merupakan tantangan (challenger), namun kita masih mempunyai secercah harapan serta kesempatan (opportunities) untuk mengantisipasinya. Kita harus bisa menggambarkan masa depan Indonesia, menjadi bangsa yang multikultural, namun tetap rukun, damai, tersenyum, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan yang bisa dibanggakan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mereformasi Pendidikan Agama Islam berbasis multikultural.
URI: http://repository.iainkerinci.ac.id/jspui/handle/123456789/60
ISBN: 978-602-7774-43-8
978-602-7774-39-1
Appears in Collections:Prosiding

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
Proceeding AICIS XIV Buku_4 masnur alam.pdf671.65 kBAdobe PDFView/Open


Items in Repository are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.